• Manusia Gerobak

    Kisah nyata Atmo, Si Manusia Gerobak, yang dinarasikan dalam sebuah puisi-esai yang indah dan menyentuh hati... Read more
  • @filecaknur

    Repositori pemikiran-pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur), di-tweet setiap hari dan sudah dibukukan menjadi tiga jilid buku Read more
  • Buku, Pemikiran dan Pengetahuan

    Catatan-catatan pribadi saya tentang berbagai gagasan tentang hal-hal yang terjadi di sekeliling hidup kita Read more

Asih Bakar Diri, Kisah Nyata, Drama Kemanusiaan Abad Ini


/1/

Rasmin terpekur di sebelah gundukan tanah gembur
Kepalanya tertunduk lesu
Mulutnya masih mengucapkan doa
Matanya memerah
Sesekali mengusap linangan air mata
Hidup memang tak terduga
Dalam sekejap titik membalikkan keadaan
Siapa penguasa satu detik ke depan?
Dialah ”Malikiyaumiddin
Dialah Raja hari (detik) kemudian
Sepi membekap Rasmin
Diterpa semilir angin kesedihan
Langit terang seperti runtuh
Menindih kepiluan hati
Istri dan dua anaknya di liang lahat
Berdiam
Memiringkan badan
Menghadap barat
Ditutup kain kafan putih
Rasanya secepat kilat kejadian itu
Istrinya menghitam
Anaknya menghitam
Satu anaknya lagi meraung-raung kesakitan
Akhirnya menyusul ke peraduan kuburan
Rasmin menyesali paling dalam
Tak berdaya menyaksikan
Kenyataan sungguh
Bukan mimpi
Bukan sandiwara
Rasmin tak ingin beranjak dari tanah kubur itu
Sendi-sendi tubuh Rasmin lunglai
Untuk diajak berjalan
Hatinya masih pedih
Rasmin menguatkan diri
Dikerahkan seluruh tenaganya
Untuk bangkit dari kesedihan
Yang terus menggayut
Langkahnya terseok meningggalkan makam
Diiringi kenangan terpendam
Ketika masih bersama istri dan kedua anaknya


/2/

Pita kuning polisi mengitari rumah petak
Bekas-bekas terbakar masih terlihat
Di atas kasur
Di dinding
Di lantai
Rasmin tak ingin kembali ke tempat itu
Sebatang kara ia meninggalkan semuanya
Bersama duka
Rasmin tak menyangka
Waktu begitu cepat membunuh
Dalam sekejap hilang semua asa
Saat itu Rasmin berada di pelabuhan
Dipanggulnya karung-karung di atas bahu
Menjadi kuli angkut
Sejak kepindahan ke tempat gersang itu
Deras angin laut masih menyeruak
Ketika kabar itu datang tiba-tiba
”Cepat datang ke rumah sakit…”
Rasmin menduga anak keduanya yang menderita kanker otak
Darurat mesti dibawa ke rumah sakit
Semburat kekhawatiran terlintas dalam benaknya
Mata sembab tetangga menyambutnya
Rasmin makin terguncang
Berdegup kencang jantungnya
Sendi-sendi tubuhnya lunglai
Ketika menyaksikan dua tubuh diselimuti kain putih
Istri dan seorang anaknya
Luka bakar dan menghitam
Ia menangis sejadinya di tepi pembaringan
Menyesali diri sedalam-dalamnya
”Astagfirullah…astagfirullah…”
Ia menyebut terpatah-patah
Satu anaknya lagi berjuang maut
Di ujung nafas
Rasmin tak kuasa membendung derai air mata
Mengalir tak henti meski berulang diseka
Mengapa ini terjadi pada keluargaku
Mengapa istriku
Mengapa kedua anakku
Mengapa aku….
Rasmin tak mengerti


/3/

Baru subuh tadi Rasmin berpamitan
Tak ada tanda, tak ada firasat
Ia menyempatkan mencium kening anaknya yang sakit
Mengucapkan salam kepada sang istri
Sebelum pergi angkat kaki menuju pelabuhan
Semalam, seminggu, sebulan, berbulan-bulan lalu
Sang istri sering berkeluh kesah
Soal tak ada beras di rumah
Perihal tak ada biaya untuk merawat anaknya
Masalah tak punya uang
Kesulitan hidup yang mendera
Sehari, seminggu, sebulan, berbulan-bulan
Tak ada perubahan
Harga-harga kebutuhan pokok makin mencekik
Melibas mereka yang papa
Tak punya apa-apa
Apalah hasil dari kuli pelabuhan
Hanya habis untuk sehari
Esok mengadu nasib lagi
Di panas terik matahari
Dihempas angit laut
Asih menanam kecewa dengan hidupnya
Tak terbayang sedemikian merana
Berada di titik nadir kehidupan
Bergelut kesusahan
Menimbun utang
Menggali lubang tutup lubang
Seandainya tak pindah ke kota
Ke tempat yang gersang ini
Di tepi pelabuhan
Mungkin jalan hidup kan berbeda


/4/

Rasmin mengira hidup lebih baik
Ketika menikahi Asih
Hidup sederhana di desa
Seperti kebanyakkan tetangga-tetangga
Sebagai buruh tani
Yang bergantung pada tuan tanah
Yang bergantung pada musim
Tak menentu akibat perubahan iklim[1]
Produksi padi tak sebagus dulu
Lahan sawah kian menyempit
Tuan tanah semakin irit
Tak mau rugi dari produksi
Buruh tani semakin banyak
Tak sebanding dengan tanah garapan
Tak ada lagi mata pekerjaan lain
Kehidupan buruh tani makin sulit
Terbelenggu selalu kemiskinan
Keluarga kecil Rasmin- Asih bahagia
Tatkala lahir putra pertama
Disusul putra kedua
Mereka berempat
Dalam langgam hidup di desa
Hanya begitu-begitu saja
Rasmin ingin mengubah nasib
Ia mengajak istrinya pindah ke kota
Mungkin nanti hidup lebih baik
Kata orang, mencari uang di kota lebih gampang
Asih ingin menampik
Ia lebih suka di desa
Meski tak punya apa-apa
Banyak tetangga mau menolong
Guyub[1]
Rukun
Jauh dari hiruk pikuk materi
Tekad Rasmin membulat
Buruh tani tak menghasilkan apa-apa
Ia termakan rayuan teman-teman
Mengajak bekerja di pelabuhan
Asih tak kuasa menolak
Ia ajak serta dua buah hatinya
Yang beranjak balita


/5/

Di kota, rumah petak mereka tempati
Untuk sekadar berteduh
Dari panas dan hujan
Berdinding papan
Di pemukiman padat yang kumuh
Dengan tetangga senasib[1]
Keberuntungan menjauhi Rasmin
Kota jauh panggang dari api
Harapan terlihat fatamorgana
Penghasilan sehari tergerus habis
Tak ada lebih
Bahkan untuk mengobati kanker otak anak keduanya
Hanya sekali dibawa ke puskesmas
Setelah itu dirawat di rumah
Karena tak ada biaya
Putra bungsunya tergeletak lemah di pembaringan
Tak seperti anak sebayanya
Yang riang bermain bersama
Hari-hari makin mencekik
Asih menguatkan diri
Di tengah impitan kebutuhan hidup
Kadang Asih berontak
Ia minta suaminya menambah uang
Setiap kali pulang ke rumah
Tapi cuma pertengkaran yang meletup
Membuat kegalauan
Harmoni keluarga yang mulai tercabik
Hari demi hari kecewa Asih menimbun
Kepada siapa mengadu?
Tak ada yang mendengar
Mengadu kepada Tuhan?
Marah kepada Tuhan?
Tak ada jawaban
Diam membisu
Asih hanya bisa menangis dalam hati
Tanpa air mata
Dalam malam yang hening


/6/

Hati Asih kacau
Ia berpikir tentang suaminya
Yang sudah bersusah payah
Ia melihat anak bungsunya
Tergolek bersama sakitnya
Ia melihat sekelilingnya
Kosong
Hampa
Hati Asih bimbang
Ia ingin keluar dari gejolak ini
Ia ingin lepas dari deburan hati yang pedih
Diam
Berkecamuk dalam pikiran
Setan-setan menggoda
Makin kencang bisikan itu
Asih terombang-ambing
Ke kiri dan ke kanan
Ketetapan hati yang hilang
Semalaman Asih gelisah
Batinnya tertekan
Jiwanya rapuh
Suami dan kedua anaknya tertidur pulas
Dipandanginya mereka
Asih trenyuh
Mengapa hidup sesulit ini
Berhari-hari
Berbulan
Bertahun
Asih tak kuat menanggung beban hidup
Setan-setan terus menggoda
Mengakhiri hidup mungkin lebih baik
Daripada terus menderita
Diri sendiri, dua anaknya, suami
Asih berpikir bergelut berkelindan
Matanya tak mau terpejam
Masa-masa indah
Masa-masa sulit
Ingin ia akhiri
Rencana tersusun
Niat dikuatkan
Semalaman Asih tidak tidur
Hingga pagi menjelang
Sang suami telah siap pergi
Berpamit dengan anak istri
Bersamaan dengan munculnya matahari
Di ujung timur


/7/

Pagi itu Asih cuma merenung
Sendiri
Dua anaknya masih terlelap
Asih terus dihantui perang batin
Tak mudah keluar dari kemelut itu
Tekanan batinnya menghebat
Pikirannya gelap gulita
Tak ada secercah cahaya pun
Satu jalan pintas
Satu pintu untuk mengakhiri semua persoalan hidup
Menjemput maut….[1]
Asih mengambil secarik kertas
Digores pena lekas-lekas
Beriring linangan air mata
Bercucuran
Di kamar itu
Asih mengguyur dirinya dengan minyak tanah
Dua anaknya yang tertidur disiram
Merata ke seluruh tubuh
Secepat kilat Asih menyulut api
Dari sebatang korek
Ke dirinya
Dan kedua anaknya
Api menari kesana-kemari
Di tiga tubuh itu
Asih meraung kesakitan
Suaranya tertelan gemuruh api
Kedua anaknya menggelinjang di ranjang
Kegaduhan terdengar tetangga
Bersebelahan disekat papan
Orang-orang berhamburan ke rumah petak itu
Berusaha memadamkan kemarahan api
Tapi tanpa daya


/8/

Semua orang menyesal
Tetangga
Ketua RT
Ketua RW
Lurah
Tokoh agama
Andai bisa dicegah…..
Lalu dimana mereka?
Bukankah pemimpin harus memperhatikan warganya?[1]
Bukankah tugas mereka mengangkat jerat kemiskinan?
Bukankah tokoh agama seharusnya mendatangi umat?
Bukan malah mendatangi?
Mengapa derita berujung kematian tragis itu tidak terendus?
Mereka ikut bertanggungjawab
Mereka menyesal
Hanya sesaat
Lalu cepat melupakan penyesalan itu
Tapi dengan cepat melempar kesalahan pada takdir
Asih adalah takdir dari potret kehidupan urban
Yang tak lagi manusiawi
Rasmin membuka secarik kertas
Yang tertinggal
Membaca tulisan sang istri
”Aku sudah tidak kuat lagi
Menghadapi hidup ini…..
Maafkan aku……….”

Diambil dari buku Puisi Esai Manusia Gerobak karya Elza Peldi Taher. Kini bisa didapatkan di Gramedia dan toko buku lainnya

Manusia Gerobak: Catatan Keterpurukan yang Menyayat Hati




Esai puisi” atau “puisi esai” memang istilah baru di negeri kita. Istilah itu menjadi nyata dengan munculnya buku “Atas Nama Cinta” karangan Denny JA. Buku itu berisi kisah yang menggabungkan cara penulisan puisi yang dipadu dengan esei. Setelah diperhatikan, untuk disebut cerpen tidak bisa karena susunan dan penggalan kalimatnya berbentuk puisi. Unsur esainya juga jelas ada karena ada sejenis kajian terhadap masalah.

Yang menarik, puisi esai tersebut ditulis oleh orang yang selama ini tidak terkenal sebagai sastrawan. Denny JA lebih terkenal sabagai intelektual, aktivis, pemerhati masalah sosial politik dan kolumnis. Tapi apa yang ia perbuat dengan bukunya itu agaknya sudah bisa dimasukkan sebagai karya sastra, karena Sapardi Djoko Damono berkenan memberi pengantar terhadap buku itu. Dengan demikian istilah “puisi esei” bisa diterima menjadi keluarga baru dalam rumah kesusastraan Indonesia.

Agus R Sarjono dalam tulisannya berjudul “Puisi Esai, Sebuah Kemungkinan Sebuah Tantangan”, mengulas secara panjang lebar, yang pada intinya memberi kesempatan kreatif untuk menemukan pembaruan-pembaruan tak terduga dalam pengembangan sastra. Tapi setiap upaya kreatif yang berupa hasil ekprimen itu akan mengalami ujian berat. Daya ungkap dan pendalaman pengarang terhadap subyek mater karangannya yang total, akan memberi kemungkinan karya itu akan mendapat apresiasi dari kalangan luas atau bisa mungkin sebuah karya dengan bentuknya yang baru bisa ditolak oleh masyarakat sastra pada zamannya, meskipun dalam rentang waktu baik singkat maupun lama ada kemungkinan bisa diterima publik sastra dengan pengalaman-pengalaman baru. Ditolaknya karya itu pada waktu pertama kali terbit karena persiapan daya apresiatif masyarakat sastra pada waktu itu belum bisa menerima karena pikiran-pikiran dan gagasan pengarangnya yang mendahului zamannya. Dan ada kemungkinan ditolak karena karya itu memang tidak bermutu.

Tapi beruntunglah kehadiran puisi esei ini yang seperti mulus meluncur dalam perjalanan perkembangan sastra. Kajian-kajian berikutnya terhadap puisi esai diharap akan terus berkembang baik di media, maupun dalam penulisan skripsi, tesis dan kajian ilmiah lainnya.

Kehidupan manusia di dunia ini memang membutuhkan keindahan. Rasa keindahanlah yang membuat hidup ini tidak kering. Bahasa yang dipakai manusia sehari-hari juga memerlukan susunan kalimat yang indah. Penghayatan terhadap keindahan dengan daya kreatifnya, akan melahirkan karya seni. Seorang yang tersentuh irama suara air terjun yang jatuh dari bukit ke dalam ngarai yang curam, kemudian digubahnya sebuah lagu. Suara air terjun bernyanyi dan berdzikir, merupakan tanda keperkasaan Tuhan Rabbul ‘Alamin. Menurut Iqbal, ekspresi seni bukan sekedar meniru alam, Sang Seniman harus berupaya untuk memberi ruh bagi ciptaannya, menurut cita rasanya yang terdalam. Seni yang hanya meniru alam, tanpa upaya memberinya ruh belum sempurna dan matang. Nilai-nilai keindahan yang ditangkap dari alam tak lain sebagai fakta spiritual.

Sebagai fakta spiritual, keindahan itu bebas berkembang di dalam diri Si Seniman. Karena keindahan itu diyakini sebagai cermin yang memantulkan sebagian keindahan Ilahi, Si Seniman tahu ke mana ia harus bersujud sehingga yang dihasilkan tetap mencerminkan nilai akhlakul karimah. Untuk itu keramahan dan persahabatan dengan alam perlu menjadi visi dalam kehidupan. Kemajuan yang bagaimana pun canggihnya, sebenarnya tidak boleh lepas dari alam.Persahabatan dengan alam dan manusia yang lahir dalam bentuk susunan bahasa atau dalam sajian yang menikmatkan, di situlah sastra muncul sebagai tanda kepedulian manusia terhadap hidup.

Dalam buku “Atas Nama Cinta” Deny JA banyak mengungkap isu-isu kemanusiaan yang berkaitan dengan sikap intoleransi terhadap perbedaan, ras, agama dan lain-lain. Kemudian muncul lagi buku puisi essi yang ditulis Ahmad Gaus. Saat ini disusul pula dengan puisi esai “Manusia Gerobak” karangan Elza Peldi Taher, yang temanya bercerita tentang orang-orang miskin. Yang menarik pada buku Elza ini ialah temanya yang tetap diambil dari berita-berita di media massa, baik di koran maupun di televisi. Ambillah “Manusia Gerobak” misalnya, yang bercerita tentang kejadian seorang miskin yang anaknya meninggal dan tak mendapatkan tanah untuk mengubur mayat anak itu. Si miskin mendorong gerobak yang berisi mayat anaknya itu benar-benar terjadi dan saya pernah baca di surat kabar.

Sebagai berita, kenyataan itu memang telah diketahui orang banyak. Orang boleh mengusap dada atau terharu. Tapi mungkin keterharuan itu berlangsung sebentar. Begitu surat kabar yang memuat berita itu sudah dijadikan kertas pembungkus kacang atau pembungkus barang lainnya, berita mayat dalam gerobak dorong itu sudah mengendap ditimbun oleh berita-berita lain yang tidak kalah menarik dan mengharukan.

Nah, rasa simpati dan empati Elza terhadap mayat dalam gerobak itu ternyata bergaung lama dan tak kunjung menghilang dari ingatannya. Ada semacam tanggungjawab untuk mengabadikannya. Peristiwa yang memerihkan jiwa itu harus dicatat dan diberi tempat. Lalu ditulisnya dalam bentuk puisi esei. Kalau peristiwa itu ditulis dalam puisi bisa bernasib seperti sebuah poci yang disebut Goenawan Mohamad, “Sesuatu yang kelak retak dan kita yang membikinnya abadi”. Dalam puisi esei Elza, mayat dalam gerobak itu akan abadi. Duka kemanusiaan akibat dianaktirikan oleh pembangunan dan peradaban itu menjadi catatan yang tidak bisa dihapus oleh sejarah.

Dalam karya yang berangkat dari peristiwa nyata seperti itu, sampai sejauh mana imajinasi penulis ikut berperan? Barangkali sudah seperti adonan tepung, air, dan gula pada roti, mungkin sudah menyatu dan sulit dipisahkan. Yang penting ide yang ingin disampaikan penulis bisa sampai tak sekedar sebagai informasi, tapi ada larutan vibrasi yang ikut memberikan warna, sehingga terjadi komunikasi yang lebih menyentuh.

Puisi atau sastra memang pergelutan masuk ke dalam masalah kemanusiaan yang mendalam. Ia bisa menjadi daya ungkap yang lezat, otentik dan partikular, justru karena partikular itu pembaca menemukan sisi lain yang baru dan segar. Penulisnnya ingin menularkan hasil penghayatan dan empatinya terhadap kemelaratan kepada orang lain. Tugas seperti itu dirasakannya sebagai tugas kemanusiaan. Coba kita perhatikan lukisan keluarga “Manusia Gerobak” yang terlunta di tengah keganasan kota Jakarta,

Istri dan dua anaknya dibawa kerja
Dengan gerobak sebagai rumahiv
Saat kantuk menggayut, gerobak menjadi tempat tidur
Beratap langit luas
Kala siang terik menyengat
Kala hujan menetes air di perlindungan
Kala malam kedinginan
Mandi kalau ada air
Makan kalau dapat uang
Setiap hari Atmo mengela gerobak
Sesekali berhenti ketika lelah menghampiri
Sambil memulung
Mengumpulkan barang bekas
Gerobaknya penuh tumpukan kardus
Ditaruh dekat dua anaknya
Atmo di depan menghela gerobak
Istri di belakang sambil mengawasi
Berjalan beriringan di tengah deru kendaraan
Pagi
Siang
Malam

Di sini ada hal pokok yang ingin dikemukakan Elza, yaitu kesenjangan sosial yang membiarkan kemiskinan untuk terus berkelanjutan akibat pendangkalan rohani dan pandangan hidup egois orang-orang yang hanya ingin senang sendiri dan menutup rasa kasih bagi orang lain. Ketimpangan sosial yang berakar dari ketimpangan rohani seperti itu sangat mengganggu rasa kemanusiaan Elza.

Elza termasuk orang yang selalu mengaitkan rasa sosial dan rasa keagamaan. Kecintaan kepada Allah harus berujud kecintaan kepada sesama manusia. Seyogyanya fitrah dan iman itu harus menjadi energi positif untuk melanjutkan “belas kasih” Allah kepada sesama manusia, terutama bagi manusia yang sedang bersedih dalam jurang penderitaan. Imanlah yang harus menjadi dinamo penggerak untuk melakukan tindakan nyata untuk mengangkat masyarakat dari kemiskinan. Itulah iman yang aktif yang selalu berorintasi pada kebaikan dan manfaat.

Dalam Al-Qur’an, orang yang tak peduli kepada nasib anak yatim dan fakir miskin itu disebut sebagai “pendusta agama” (Surat Al-Ma’un). Akan semakin tampak bahwa ketidakpedulian kepada orang miskin itu sebagai sebuah kejahatan kalau kita memperhatikan sabda Ali Ibnu Abi Thalib, Fama ja’a faqirun illa bituhkmati qhaniyyin, tidak lapar orang miskin kecuali karena serakahnya orang kaya. Memperhatikan kalimat yang diucapkan Ali di atas, kalau dipikir, sebenarnya rezeki dari Tuhan untuk umat manusia itu cukup. Kenapa ada orang miskin ? Karena ada orang kaya yang rakus, yang hanya mau kenyang dan senang sendiri.

Pikiran seperti itulah yang meresahkan Elza sehingga ia menulis puisi “Manusia Gerobak” dan 4 puisi esai lainnya. Persoalan kemiskinan seperti itu memang bukan persoalan sastra tapi Elza merasa persoalan itu bisa menjadi intensif diungkap dengan media sastra. Rasa sedih, terharu, gembira dan lain-lain diyakini merasa cocok dibahasakan dalam bahasa yang berbentuk “puisi esei”.

Bahwa Elza tidak selalu larut lama dalam kesedihan, bisa diperhatikan pada bagian akhir dari puisi esei “Manusia Gerobak” ini. Tidak semua orang di negeri ini yang tidak peduli terhadap kemiskinan dan penderitaan. Orang yang baik meskipun miskin masih banyak.

Terbukti di tengah masyarakat yang kekurangan itu, kita menemukan jiwa penolong yang terdapat pada orang-orang miskin yang hidupnya sangat sederhana. Jenazah anak yang ada dalam gerobak itu akhirnya dikuburkan oleh orang-orang miskin yang berhati emas. Kita nikmati baris-baris terakhir “Manusia Gerobak”.

Atmo menceritakan keluh kesah pada ibu Sri
Membawa jasad putrinya kemana-mana
Ibu Sri tak tahan mengurai air mata
Mendengar derita Atmo membawa jenazah
Karena tak berpunya
Cerita tersebar ke tetangga
Sesama orang miskin
Tapi mereka peduli
Bukanlah mengurus jenazah menjadi kewajiban orang Islamv
Mereka mengurus jenazah putrid Atmo
Dimandikan
Dikafankan
Dishalatkan
Diurus pemakamannya
Disiapkan bunga-bunga nan semerbak
Dibawa beramai-ramai
Sesama orang miskin
Mengiringi Atmo
Ke tanah perkuburan
Hari hampir gelap
Jenazah dikebumikan
Terdengar adzan dari liang kubur
Bagitu indah nan syahdu
Adzan ketika sosok manusia dilahirkan
Adzan ketika sudah berselimut kain kafan
Adzan mengingatkan orang akan mati
Terdengar iqomah
Seruan untuk mendirikan shalat
Segera menghadap Ilahi bersembahyag
Dengan ketulusan dan kepasrahan
Mendengar adzan dan iqomah mata Atmo berair
Mayat kecil berkain kafan ditutup papan
Tanah-tanah berhamburan
Sampai membentuk gundukan
Ditancapkan nisan papan, “Mawar binti Atmo”
Ditaburi kembang-kembang
Hari mulai gelap
Satu persatu pengiring meninggalkan
Atmo masih terpekur di kuburan
Berdoa dalam hati
Ditatapnya nisan kayu
Terdengar adzan magrib
Atmo bersyukur
Atmo yakin
Bunga surga telah tenang di alam sana…

Mengakhiri membaca “Manusia Gerobak” ini saya jadi berfikir, sebenarnya Elza seperti mengingatkan bahwa di kalangan masyarakat kelas bawah, yang namanya solidaritas masih berlangsung dengan baik, jenazah dalam gerobak itu akhirnya dikubur dengan khidmad.

Sikap solider seperti itu sampai sekarang masih menjadi nilai yang dilakukan banyak orang sampai ke pedesaan-pedesaan terpencil. Suasana guyup, tolong menolong masih berlaku di kalangan para petani, nelayan dan lain-lain, merekalah yang sebenarnya orang-orang yang masih ikut memelihara kehidupan ini tanpa pengkhianatan kepada bangsa dan negara. Sebagian besar orang-orang miskin itu masih merawat hatinya dengan baik tanpa seujung rambut pun ingin merugikan tetangga dan orang lain.

Secara implisit Elza ingin memberi gambaran tentang terpeliharanya nilai-nilai dengan munculnya rasa kebersamaan dalam menyelesaikan tugas “fardu kifayah” terhadap anak mati yang berada dalam gerobak itu.

Peristiwa penguburan itu diduga keras, Elza tidak ikut menyaksikan acara itu. Kalau ia tidak ikut, dari mana ia mendapat bahan untuk menuliskan gambaran yang detail itu.

Jawabnya tidak lain, dari imajinasi. Jadi, bisa kita katakan, bahwa penguburan itu adalah fakta, tapi lukisan yang lengkap yang penulisnya tidak ikut melakukannya - tidak lain adalah imajinsi. Di sinilah imajinasi itu telah berjasa memberi lukisan yang lebih lengkap dari sekedar fakta atau berita. Imajinasilah yang telah membantu peristiwa yang hanya berupa berita kemudian menjadi sajian yang lebih hidup dan lebih bisa dinikmati. Imajinasilah yang membuat kejadian yang hanya “duka berita” menjadi “duka sastra”.

Seandainya mayat anak dalam gerobak itu ditulis oleh 2 atau 3 orang yang berbeda, baik dalam pengembangan imajinasi, maupn dalam cara bercerita dan dalam menyusun kalimat, kita akan menemukan 3 sajian yang berbeda. Tapi, inilah kisah yang disajikan oleh Elza Peldi Taher dengan daya imajinasinya, lengkap dengan pilihan kata-kata dan cara mengisahkannya.

4 cerita lain dalam esei ini ialah tentang Asih yang melakukan aksi bakar diri bersama anak-anaknya karena putus asa akibat tekanan ekonomi yang tidak teratasi. Hidup memang tidak untuk makan, tapi kalau rejeki untuk mendapatkan makanan tak ada, sementara usaha untuk mendapatkannya sudah dilakukan, tetapi terbentur pada atmosfer kehidupan yang tidak menolong , akhirnya, Asih harus menyiramkan minnyak tanah kepada dirinya dan anak-anaknya lalu menyalakannya dengan api yang kemudian berkobar.

Tak terbayangkan, gerakan macam apa yang dilakukan oleh Asih dan anak-anaknya dalam kobaran api itu. Asih telah mengakhiri hidupnya dan hidup anak-anaknya dengan neraka yang dibuatnya sendiri. Penulis puisi esei ini seakan bertanya, manakah belas kasih sesama manusia? Di manakah kemanusiaan yang adil dan beradab?

Puisi esei ini yang ketiga berjudul “Catatan Harian Ivon”, yang menceritakan seorang gadis yang terjerumus ke kehidupan malam. Ivon mengarungi hidupnya yang penuh duka dan menjual diri. Dari hubungan dengan seorang laki-laki ia melahirkan seorang bayi. Kalau malam ia menitipkan bayinya kepada tetangga. Lebih celaka lagi hampir tiap malam ia menjadi korban aksi preman yang selalu minta uang. Akhirnya pada suatu pagi mayat Ivon terkapar di tepi jalan.

Cerita ke lima berjudul “Zaka dan Tatto Gajah”, yang berbeda dengan cerita-cerita orang miskin sebelumnya. Yaitu tentang seorang perampok bernama Zaka yang menjalankan hidupnya dari perampokan ke perampokan lainnya. Sedang sebagian hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada orang miskin. Zaka adalah Robinhood akhir abad ke 20 yang kemudian menemukan kedamaian dalam bertobat. Inilah baris-baris terakhir dari Zaka yang menemukan pencerahan,

Jakarata, 1997
Zaka kembali menghirup udara bebas
Tekadnya telah bulat
Menjadi muslim yang utuh
Itu pula, titik mula
Ke rumah dai sejuta umat
Belajar membangun hubungan sesama manusia
Ke rumah raja dangdut
Belajar berdakwah sesuai irama
Ke pesantren Krapyak
Belajar manajemen pendidikan
Relasi dengan para kepala penjara
Dirajut dalam jejaring silaturrahim
Dan kini
Hari-hari Zaka dilewatka
Dari penjara ke penjara
Mengenalkan islam
sebagai jalan keluar dari persoalan
bukan sebatas dosa dan pahala
surga dan neraka
Mengajarkan jalan lurus
kumpulan noktah-noktah putih
bagai cericit burung-burung di langit
menjadikan tentara bergajah seperti daun-daun terkuyah

Selintas alangkah mudahnya tobat dan kembali ke jalan yang benar itu. Tapi di sini ada proses. Simbol gajah yang merupakan gambar tattomengingatkan Zaka pada raja Abrahah – sedang peluru penegak hukum yang akan memburu para penjahat dirasakannya ibarat burung-burung ababil yang melempar gajah Abrahah dan pasukannya menjadi tersungkur dan hancur.

Keperkasaan Tuhan apabila hendak ditunjukkan kepada para pembangkang akan menjadi konkret. Di sinilah seorang yang merasa sangat kecil dan tak berdaya menghadapi kekuasaan Tuhan akan sadar dan kemudian menemukan pencerahan. Proses inilah yang ingin dikemukakan Elza. Proses dari kehidupan yang panuh ranjau dalam selimut kegulitaan menuju atmosfer yang segar yang terang benderang.

Puisi esei yang ke-4 adalah potret belang bontengnya keadilan di negeri ini. Elza mencoba meramu beberapa peristiwa berbagai putusan perkara yang dialami orang-orang miskin. Dalam puisi esei yang ini Elza memadu beberapa episode tentang pelaksanaan hukum yang janggal. Ada hukum tapi tak ada keadilan. Berbeda dengan ke-4 esei yang lainnya puisi esei ini tiap episode dari peristiwa yang berbeda ditulis Elza dengan agak singkat. Pada hal seandainya Elza bersabar dalam mengembangkan daya imajinasinya, cerita ini dengan muatan-muatan yang benar-benar menyinggung rasa kemanusiaan tidak akan kalah daripada ke-4 puisi esei lainnya.

Pada akhirnya penulis “Manusia Gerobak” ini bisa dikatakan sebagai seorang yang punya sensibilitas kemanusiaan yang ingin mengekpresikan kegelisahan batinnya tak cukup dengan esei dan artikel. Tapi esei yang dicoba dipadukan dengan puisi

Pusi-puisi jenis ini, seharusnya memang diterima sebagai upaya untuk memperkaya berbagai pengucapan dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Masalah nilai sastranya tentu tidak perlu tergesa kita menilai sekarang dengan harga mati. Kita perlu menunggu batu uji yang disebut perjalanan waktu dan dialog dengan masa depan. Apakah karya jenis itu punya nafas panjang untuk menyuguhkan nilai yang benar-benar teruji? Ketika sastra dituduh terpencil, atau dituduh megah bermukim di menara gading, Elza masih punya kepercayaan bahwa duka kamanusiaan bisa menemukan kendaraan lewat puisi esei seperti yang ditulisnya ini.

Saya turut menyambut kehadirannya, dengan alasan bentuk-bentuk baru dalam kesustraan perlu dicari, diburu dan diberdayakan. Selain itu, pintu kebebasan berekspresi tidak pernah dikunci untuk mendukung lajunya kebudayaan. Selamanya akan terbuka karena memang harus dibuka. Tidak boleh ditutup.

Madura 15 Desember 2012

D. Zawawi Imran

Tulisan ini adalah kata Pengantar D.Zawawi Imran untuk buku Puisi Esai Manusia Gerobak karya Elza Peldi Taher. Buku itu kini jadi best-seller di Gramedia, sudha dibahas di dua stasiun teve.